RSS
 

Titipan

02 Dec

Its been a long time, since last time I wrote this blog again. Memang yang namanya disiplin itu selalu menantang. Hehehe.

Well, apapun itu, here I go again writing something I believe sudah diniatkan sejak bulan puasa lalu, cuma somehow baru ditulisnya sekarang ini.

.

Saya masih ingat di bulan puasa tahun ini, kantor tempat saya bekerja di bulan puasa senanatias mengadakan Kultum (Kuliah Tujuh Menit) paska shalat Dzuhur berjamaah dan sebelum masuk kembali bekerja di pukul 13.00 WIB. Yang spesial bagi saya waktu itu adalah ketika Direktur Keuangan kantor saya kebagian giliran menyampaikan kultum. Tidak seperti cara kebanyakan orang ketika menyampaikan kultum, beliau membawa beberapa lembar berisi puisi dan meminta beberapa sukarelawan untuk membacakannya di depan jamaah kultum. Saya diminta menjadi yang pertama membacakan salah satu puisi yang beliau bawa.

Apa yang saya baca pada saat itu, rupanya terus membekas di hati saya hingga sekarang. Berikut adalah puisi yang dimaksud :

.

Renungan Indah

by WS Rendra
.

Seringkali aku berkatan,

Ketika semua orang memuji milik-ku

.

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah “TITIPAN”.
.

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

 

.

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya :

Mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan padaku ?

.

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan atas milik-Nya itu ?

.

Apakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

.

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,

Kusebut itu sebagai ujian

Kusebut itu sebagai petaka

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

.

Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, ingin lebih banyak popularitas

Kuotolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukum bagiku

.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan seharusnyalah nikmat dunia kerap menghampiriku.

.

.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai dengan keinginanku.

.

Gusti,

Padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanya untuk beribadah

.

Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja..

(selesai)

.


Konon, ini adalah puisi terakhir WS Rendra yang ditulisnya di ranjang Rumah Sakit.

 
 

Twitter Laughable Hour 2 : #ilmiahgombal -Credit to @Kisuriel & @lafagreen

22 Aug

Its been a while yaa ! :P eace:

Terakhir post adalah 4 Juli 2011. Meaning almost more than 1 month I haven’t update this site. But no worries, since new job and more time to write and read. I shall put an extra-attention to the development of this. Thank you for all of you who take your time to visit and read my posts (its already 18.300 + visits already, what a number !) :matabelo

This time, for starter, mari kita lucu-lucuan ! :D

Ceritanya adalah semalem karena saya ga bisa tidur, saya cek twitter saya dan di situ lagi lumayan rame orang-orang pada maen hashtag #ilmiahgombal. Yes ! Its funny. Thanks to @Kisuriel & @lafagreen yang memulai semuanya. Karena itu, berikut adalah kutipan tweet-tweet mereka dan saya sendiri yang lucu sekaligus ngajak mikir :p

.

.

@nurobie: Cintamu bagaikan virus yang bereplikasi cepat dan masuk kedalam seluruh tubuh ku.. Melumpuhkan sistem imunku.. #ilmiahgombal

@Grow_deUno:  Kecepatan cahaya pun sanggup kau degradasikan semenjak harmonisasi kuanta affeksi intimasi meliputi narasi filia kita #ilmiahgombal

@Kisuriel: Cinta adlh premonisitor, aku adlh premolator, mantanmu hanyalah predesesor dan kamu adlh prestasi.. #ilmiahgombal

@SalvoDSons: Kamu adalah bukti otentik suatu spesies saintifik yg paling tidak sistematik seumur hidupku. #ilmiahgombal

@Kisuriel: Aku memang punya hipofungsi dlm kolokasi finansial sayang, namun aku fasih dlm meliterasi fonolog hatimu.. #ilmiahgombal

 @adityakhlas: Gerakan cintamu bagai kuda trojan yg menghentak relung processor jiwaku #ilmiahgombal

@lafagreen: Perasaan padamu begitu efulgen, ingin buatnya efloresen, jgn biarkan ada intervensi dari insurgen. #ilmiahgombal #udahan

@nurobie: Senyumanmu seperti Gugus pospat yang memberikan energi untukku memulai hari ini.. :) #ilmiahgombal

@Grow_deUno: 01101001001000000110110001101111011101100110010100100000011110010110111101110101 #ilmiahgombal #edisiBiner

@lafagreen: Mbak, sejak pertama lihat Anda, saya ingin mengekskavasi hati Anda & menginstalasi saya di sana. #ilmiahgombal #edisikontraktor

@lafagreen: Kerap kali kamu bersolomisasi di otakku. Setiap untaian frasemu memiliki legato yang menseduksi aku. #ilmiahgombal #musikal

@Kisuriel: Masih ingatkan kamu akan juskonstituendum yg kita buat sebelum berpacaran? Mngapa kamu skrg menderegulasinya? #ilmiahgombal

@Kisuriel: Milyaran kata cinta terkongesti rapat di benakku tanpa ada eksitus.. Bukannya malu, aku hanya menunggu katalisator yg tepat. #ilmiahgombal

@lafagreen: Jika km ingin tahu desain interior hatiku, ada sebuah partisi khusus yg brbentuk selasar, isinya? kamu lah.. #ilmiahgombal

@Kisuriel: Sudah! Jangan meng-hitergraf fragmentasi kisahku dgn mantan2ku.. Kamu tetap yg prominen bagiku! #ilmiahgombal

@Kisuriel Saat melihatmu tersenyum, terjadi defragmentasi pada sel tubuhku dan menginginkan Dnamu untuk proses reproduksi =] #ilmiahgombal

.

.

Dan beberapa tweet sumbangan saya sendiri :D

.

@alfahaga Electroencepalograph ini nunjukkin kalo kamu ada di kondisi meditative relaxation | Iya, tiap denger suara kamu.. #ilmiahgombal

@alfahaga  The mind will be the last frontier to the mankind | No, for me, it would be you, sugar-babe. #ilmiahgombal #tarikecak

@alfahaga Kata2mu menelusuk sanubariku. Derunya menghujam deras ke nadiku layaknya Hypodermic Needle. #ilmiahgombal #radamaksa

@alfahaga Hey babe, biar aku mirroring-pacing-leading kamu ke jenjang pernikahan. #ilmiahgombal. #edisiNLP

@alfahaga Cewe : Seismograf ini mendeteksi gempa besar !! | Cowo : Tenang, sayang. Itu cuma detak jantung aku. #ilmiahgombal #edisigempa

@alfahaga Sejak sama kamu, “Agenda” hidupku telah sepenuhnya di-”Setting” cuma buat kamu. Kenapa ya ? Padahal kamu bukan media massa. #ilmiahgombal

@alfahaga Ada elemen “fantasy” dalam Symbolic Convergence Theory. Tapi bagiku, fantasiku hanya kamu, sayang. #ilmiahgombal #kelojotan

@alfahaga Noelle-Neumann ga bisa menjelaskan kenapa teori Spiral of Silence mereka bisa terjadi sama aku ketika liat kamu ! #ilmiahgombal #tembakdirisendiri

@alfahaga Kalo aku lagi sama kamu, maka Eric Berne harus nambahin 1 state lagi dari 3 ego-state di teori Transactional Analysis-nya : lover-state. #ilmiahgombal

@alfahaga Cintaku padamu hanya bisa dijelaskan oleh The Super-String Theory. Tidak hanya ada di 3 dimensi, tetapi juga nyata diketujuh dimensi lainnya !! #ilmiahgombal

@alfahaga Kata ilmu Noetic, pikiran memiliki massa yg mengeluarkan gravitasi u/ menarik hal atau benda-benda ke arahnya. Dan sekarang aku ketemu kamu, bebskyy.. #ilmiahgombal

.

.

Sungguh lucu sekali ! :ngakak

 

ps : Follow akun-akun di atas juga ya, they’re all my brothers :2thumbup

 

Marah

04 Jul

Pagi ini saya membaca sebuah tweet dari @pemulihanjiwa yang sangat menarik :

“Setiap kali mau marah,km mesti ingat,bahwa tujuan dari marah adalah untuk memberitahu kekecewaanmu,bukan utk menyiksa dia”

Tak ragu saya langsung masukkan tweet ini ke dalam ‘favorite’ list saya yang ke-498 (kaget, banyak juga ! :D ) dan melakukan Retweets. Lebih jauh lagi saya mulai merenungi lebih dalam makna 160 karakter barusan.

.

Untuk apa kita mengeluarkan kemarahan kita ?

.

Setelah saya merenungkannya, saya sepakat dengan tweet di atas bahwa kita mengeluarkan amarah kita untuk 2 mengungkapkan kekecewaan.. Atau menyakiti orang yang telah membuat kita marah. Now, sekarang saya sendiri belum begitu memahami bentuk kemarahan seperti apa yang memang dikeluarkan untuk menyampaikan kekecewaan, tetapi jelas saya memiliki gambaran jelas mengenai rupa kemarahan yang dilepaskan untuk menyakiti.

Sesuatu yang menyebabkan amarah merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Itu pasti. Tetapi seperti juga prinsip-prinsip universal lainnya, bahwa bukan apa yang terjadi pada kita melainkan reaksi kita atasnya adalah yang benar-benar penting. Dari reaksi, kita bisa menelaah banyak motif atau latar belakang di balik reaksi tersebut.

Saya menyadari bahwa ketika saya marah (misalnya meledak), saya melakukan lebih karena saya ingin menyakiti penyebab kemarahan saya itu. Marah yang bertujuan menyakiti saya kira lebih memainkan peranan perasaan dan sensasi-sensasi disekitar dada (yang rasanya sesak atau linu) ketimbang pemikiran rasional. Saya jadi ingat ungkapan, ‘hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin’. Barangkali ini maksudnya ya.

Sedangkan marah untuk mengungkapkan kekecewaan biasanya tidak akan berupa sebuah ledakan. Correct me if I’m wrong, tetapi marah untuk mengungkapkan kekecewaan lebih memainkan peranan rasio dan logika dengan sensasi sekitar dada yang tetap terasa namun kita tahu bahwa kita tidak lagi digerakkan oleh sensasi kimiawi tersebut. Dalam hal ini, saya berani berkata bahwa kekecewaan yang terungkap melalui kemarahan tetap dibungkus oleh suatu kasih yang sangat implisit. Bahwa marah yang terlontar ditujukkan untuk memperbaiki dan mengkoreksi si penyebab kemarahan, tidak lagi untuk menyakiti.

.

Singkatnya, kemarahan untuk memberitahu kekecewaan tidaklah didasari oleh dendam.

Kemarahan untuk menyakiti, sudah jelas didasari oleh dendam.

Yang satu untuk perbaikkan dan kemajuan. Yang satu hanya untuk memuaskan ego untuk membalas.

Karena itu, mana yang lebih sering kita lakukan ?

.

Dan saya pun kembali melakukan sebuah refleksi..

 

Small Inspiration for Starter

27 Jun

Its been a long time, fellas. Kalo diliat-liat last entry blog ini adalah akhir Januari ya. Berarti hampir 4 bulan saya vakum dalam update ini blog. Anyway, sometimes I had a lot on my mind to share here, but when it comes to this “Add New Post” screen, what I want to write seems disappeared in an instant. I believe I need to write again for the sake of myself, and that to share is always a good thing. So for starter I’m going to write a small random inpiring things that I got this morning and just now.

Saya menemukan di kepala saya 2 kalimat yang cukup menarik. Yaitu :

1. Happiness isn’t about possession, its about appreciation.

2. Moving on isn’t about forgetting, its about accepting.

 

Just a random thought back then, tetapi saya kira ada benarnya juga. Berbicara tentang kebahagiaan, suatu hal yang kini semakin banyak orang mencoba untuk mendefinisikannya, adalah berbicara tentang hakikat kehidupan itu sendiri. Layaknya kehidupan, maka setiap orang memiliki makna tersendiri mengenai kebahagiaannya. Banyak yang berkata bahwa mereka yang memiliki banyak hal di dunia ini tidak pernah benar-benar merasa bahagia karenanya. Banyak juga yang berkata bahwa kebahagiaan itu ada hadir saat ini tanpa perlu kita upayakan, kita hanya perlu benar-benar menyadarinya saja.. Melalui rasa syukur.

Ketika saya memikirkan tentang syukur, saya berpikir tentang hal-hal yang telah saya miliki saat ini versus hal-hal yang belum (dan ingin) saya miliki. Ketika saya renungkan betul, saya terkejut karena hal yang saya miliki SELALU lebih banyak daripada hal-hal yang belum (dan ingin) saya miliki. Its true. Dan lebih mudah menemukan hal-hal yang bisa saya syukuri ketimbang memikirkan apa yang kurang dalam hidup saya. True true. Ketika saya memikirkannya dengan seksama, bahkan hal-hal kecil yang sepele sekalipun merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri. Pekerjaan, teman-teman dan orang-orang disekeliling, orang tua, keadaan emosional, pelajaran-pelajaran yang telah diperoleh.. Bahkan hal-hal yang kita inginkan atau impikan pun bisa jadi merupakan suatu anugerah.

Meski demikian, saya pun menyadari bahwa lebih mudah merasa kekurangan daripada merasa terpenuhi. Hehehe. Saya berpikir mengapa hal ini bisa terjadi ? Its a thing ketika kita lebih mudah menemukan apa yang telah kita miliki ketimbang apa yang belum dimiliki, namun menjadikan penemuan tersebut sebagai energi positif yang mendamaikan, barangkali its another thing.

Mungkin karena kita sudah sedemikian terbiasa merasa kekurangan ? Mungkin karena telah sedemikian lumrah bagi kita melakukan perbandingan-perbandingan dengan orang lain ? Mungkin karena sejak kecil kita selalu dihadapkan pada situasi-situasi  yang membuat kita merasa kecil dan rendah diri ? Wallahualam. Namun satu hal yang saya yakini adalah, ketika suatu impuls pemikiran atau gejolak perasaan membuat diri kita merasa tidak lebih baik, kemungkinan hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik untuk dipertahankan lama-lama. Seseorang harus segera mengubah impuls atau sensasi tersebut menjadi sebuah hikmah yang menguatkannya, rather than melemahkannya. Barangkali momen-momen yang melemahkan ini perlu ada, namun tidak untuk diperpanjang dan didramatisir oleh diri kita sendiri.

So back to being happy, I believe and I train myself to always realize about what I already have and that everything’s is a God send to me. :)

.

Second point is about moving on. Istilah yang sangat common biasanya bagi mereka yang terlibat dalam kisah percintaan. Entah apa hubungannya dalam hal ini, namun saya memikirkan juga soal ini sehingga akhirnya terperciklah frase di atas : “Moving on isn’t about forgetting, its about accepting.”

In my personal opinion, forgetting something that happens to you significantly is impossible. Saya kira yang telah terjadi, apalagi jika itu sungguh sangat menyakitkan kita akan selalu ada dalam kenangan kita. So, saya berpikir bahwa moving on bukan tentang melupakan, tetapi lebih kepada menerima. Menerima bahwa hal tersebut TELAH MENJADI BAGIAN DARI HIDUP KITA. Menerima bahwa hal itu telah terjadi dan bahwa memang itulah fakta yang sesungguhnya. Kalau melupakan itu ibarat melarikan diri, maka barangkali menerima itu ibarat menghadapi. Dalam prosesnya kita akan merasa lebih sakit, lebih galau, dan lebih tidak jelas. Tetapi pada akhirnya, saya kira menerima jauh membebaskan.

Ah.. Menariknya kehidupan. ;)

 

 

Kedamaian Pikiran

29 Jan

Hi there ! :)

Kali ini saya akan mencoba berbagi petikan tulisan dari sebuah buku yang sudah saya miliki sejak 3 tahun lalu. Buku ini adalah buku pengembangan diri yang kurang lebih masuk dalam kategori psikologi populer. Judulnya “Keberhasilan Puncak” ditulis oleh Brian Tracy. Saya memutuskan untuk membacanya kembali karena satu alasan sederhana : saya sudah lama sekali tidak bersentuhan dengan buku. Hahahaha. Terutama dengan buku-buku psikologi populer seperti ini.

Ketika pertama kali membacanya lagi kemarin, saya cukup terkejut mengetahui apa yang terjadi dalam pikiran saya. Awalnya saya menduga bahwa saya tidak akan banyak dikejutkan oleh buku ini, karena saya menganggap bahwa saya sudah cukup “kenyang” dengan topik-topik pengembangan diri dengan imbuhan-imbuhan yang tipikal seperti “sukses”, “kaya”, “goal-setting”, “positif”, dan sebagainya. Guess what ? Bab 1 buku ini saja sudah mampu membuat saya banyak menggoreskan pena-highlighter hingga hampir-hampir saya membuat satu bab berubah warna menjadi kuning cerah.

Terhadap pengalaman ini saya ingat satu hal, pemikiran dan keadaan diri saya jauh berbeda dengan pemikiran dan keadaan saya di 3 tahun lalu ketika membaca buku ini. The book is the same, the writings didn’t change a bit. But I am change. Dengannya, bagaimana saya menangkap pesan dan isi buku pun telah sepenuhnya berubah. Ini yang membuat segalanya tampak menarik bagi saya. Ini yang membuat topik-topik psikologi populer yang tadinya saya pikir sudah overrated kembali menjadi suatu petualangan yang menggairahkan. I don’t know where it’ll lead me.. But I always believe it’ll lead me to something great. :)

So, let’s begin.. Tracy mengajukan gagasan yang sebetulnya lumrah namun mengesankan bagi saya. Yaitu ketika dirinya menulis tentang Tujuh Unsur Ramuan Sukses. Isinya.. Mengesankan. Tidak overrated dan menyentuh ke hal-hal yang menurut saya cukup fundamental.

Menurut Tracy unsur pertama yang paling penting adalah KEDAMAIAN PIKIRAN. Menarik ya ? Dia menulis : “Ini adalah kebaikan manusia yang tertinggi.” Mengapa ? Tracy berargumen bahwa, jika kita hidup dalam keadaan yang serasi dengan norma-norma tertinggi dan keyakinan yang paling mendalam–kalau kita mempunyai keseimbangan hidup yang sempurna–maka kita tengah menikmati kedamaian pikiran. “Seandainya, karena suatu alasan, Anda MENGKOMPROMIKAN norma-norma Anda, atau melawan petunjuk batin Anda, maka kedamaian pikiran Anda adalah yang pertama menderita.”

Saya berpikir, kalau pikiran ini damai. Maka nothing else matters, ya ngga ?

Kita tidak khawatir dengan segala kekurangan atau permasalahan yang kita hadapi saat ini. Masalah itu akan tetap ada, tetapi kita menghadapinya dalam damai, yang pada akhirnya kita benar-benar tidak melihat itu sebagai masalah yang besar dan merampas kedamaian yang sudah ada itu. We simply see it as something as it is. Sebagaimana adanya, serta menghadapinya sesuai dengan porsi yang tepat, tanpa perlu melebih-lebihkan segala sesuatunya.

Dan sebagai penutup, Tracy menambahkan suatu  ukuran sederhana mengenai kebahagiaan dan kedamaian pikiran yang dimaksud : “Dalam pengertian yang paling sederhana, Anda mengalami kebahagiaan dan kedamaian pikiran kapan saja Anda sepenuhnya bebas dari emosi yang merusak berupa rasa takut, amarah, keraguan, rasa bersalah, kekesalan, dan kekhawatiran. Tanpa adanya emosi negatif, Anda menikmati kedamaian pikiran secara alami, tanpa bersusah-payah..”

Saya di sini pun mulai merenung.. Jika demikian, apakah keseharian saya lebih banyak dilalui dengan kedamaian pikiran atau sebaliknya ? :)

 

Sang Maha Ajaib

11 Jan

Its been quite a while ya ?

Terakhir saya menulis pada tanggal 7 November 2010, dan sekarang sudah 11 Januari 2011. Itu berarti 2 bulan lebih saya absen menulis di site ini. I gotta say I’m sorry karena saya juga belum bisa memenuhi janji saya untuk meneruskan tulisan mengenai pemikiran Joe Vitale yang tertuang dalam Zero Limit (ya, tepat di bawah tulisan saya yang sekarang, terdapat tulisan terakhir saya mengenai beberapa kutipan dari buku tersebut). :)

Tulisan kali ini barangkali hanya akan singkat saja. Pada jam 23.30 WIB ini saya masih di kantor bersama seorang sahabat setelah hampir 4 jam lebih terlibat dalam obrolan panjang bersama seorang Senior Manager favorit kami. Kami berbincang mulai dari perusahaan tempat kami bekerja, hingga membahas keadaan negara ini secara makro. Terus terang obrolan panjang ini lebih menitik-beratkan pada suatu hal yang SUDAH PASTI menyedot semangat dan energi positif : KESULITAN dan MASALAH.

Selama hampir 4 jam penuh kita bicara tentang kesulitan dan persoalan yang ada baik di dalam perusahaan tempat kami bekerja hingga yang kita pandang sebagai kesulitan dan masalah di negara ini secara makro. Sangat melelahkan. Sangat pesimistis. Sangat menyiutkan nyali. Meski yang kita bicarakan semua itu merupakan fakta yang sudah pasti kebenarannya (dan menarik untuk terus dibahas dan digali lebih dalam), tetapi semakin lama diobrolkan, semakin negatif jualah diri saya secara pribadi. Semakin cenderung lah saya menyerahkan tanggung jawab kepada keadaan di luar diri saya sendiri. Semakin frustasi lah saya jadinya.

Tetapi semua itu rupanya bisa dinetralisir dan bahkan bisa ditransformasi menjadi energi baru yang lebih positif (setidaknya untuk diri saya sendiri) ketika sahabat saya mulai share tentang apa yang pernah kita bicarakan beberapa bulan yang lalu :

“Ketika kita sukses nanti, kita akan mengingat saat-saat sekarang, saat-saat sulit ini, dan karena saat-saat seperti sekarang inilah kita akan semakin menghargai keberhasilan dan pencapaian kita itu. Tambahan lagi, kesulitan-kesulitan lampau akan selalu membuat kita menjadi manusia yang lebih bersyukur.”

Setelah itu sang Senior Manager-pun menyambung dengan kisahnya :

“Betul. Ketika saya awal menikah pada tahun 2002, saya masih ingat.. Ketika itu saya baru awal-awal menikah dengan istri saya. Saat itu saya masih mengontrak dan belum memiliki apa-apa. Ketika itu, saya dengan sedih dan prihatin berbicara pada istri saya bahwa dengan hitungan dan kalkulasi masa kini, kita baru bisa memiliki rumah sendiri, mobil dan lain sebagainya itu kemungkinan di 10 hingga 15 tahun lagi.”

“Ketika itu rasanya perjalanan masih sangat jauh sekali. Sangat jauh sekali. Dan sungguh bukanlah suatu bayangan yang menyenangkan. Namun siapa sangka, saya sudah bisa memperoleh segalanya 5 tahun kemudian ? Saya dan istri saya sendiri tidak menyangkanya. Percaya atau tidak, setahun kemudian saya sudah mampu membeli mobil pribadi saya sendiri. Setahun berikutnya saya sudah bisa menabung untuk melakukan investasi tanah di Semarang. Dan segala sesuatunya mulai berubah menjadi lebih baik setelah itu. Of course kita selalu dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru yang jauh lebih menantang, namun pada kenyataannya kita selalu bisa bertahan menjadi lebih baik.. Jadi tidak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan.”

Pembicaraan pun ditutup dengan sesuatu yang menggugah dan lebih positif. Saya menyimpulkan bahwa ketika kita dilelahkan dengan pembicaraan kita sendiri mengenai kesulitan dan masalah, kita sesungguhnya melupakan satu entitas mutlak nan absolut tempat terjadinya semua keajaiban : Tuhan.

Kisah sang Senior Manager merupakan bukti jelas bahwa hitungan manusia tidak pernah akan bisa menyamai hitungan, rencana sekaligus kejutan-kejutan Tuhan. Ya, Tuhan adalah Pemberi kejutan terbaik. Tuhan adalah Pesulap paling mahir. Tuhan adalah arsitek plus desainer kehidupan paling jenius. Bagaimana pun hebatnya kita berkalkulasi dengan logika kita, tetaplah Sang Arsitek yang memiliki kalkulasi terbaik, dan bersama kalkulasi-Nya terdapatlah Rencana dan Keajaiban terbaik bagi setiap mereka yang yakin dan percaya.

Pada akhirnya saya pun melakukan refleksi singkat melalui tulisan ini.. Kenapa mesti khawatir dengan apa yang akan terjadi, terutama untuk sesuatu yang berada di luar jangkauan pengaruh kita ?

Tuhan Maha Ajaib. And the good news is : “He Runs all the show”. :)

 
 

Ego Who Says : “I Know What Success & Happiness Is”

07 Nov

Lesson From Joe Vitale & Hew Len’s “Zero Limit” (1)

.

Berapa banyak di antara kita yang sudah sering mendengar istilah “goal setting” ? Berapa banyak pula yang sering mendapat masukan “Rencanakan hidup, jalankan rencanamu, dan coba lagi coba lagi coba lagi coba lagi !” ? Atau mungkin pernyataan “Sukses itu penuh pengorbanan ! No pain no gain !” ?

.

All is true. For some people. In fact, semua itu dinyatakan berdasarkan pengalaman yang menyatakannya. Hanya saja, kita semua mungkin tahu, bahwa pengalaman adalah subjektif. Meski pengalaman itu dialami oleh ribuan orang, hal itu tidak membuatnya menjadi sesuatu yang harus berlaku dan terjadi buat orang lainnya. Do you think ? Ya, saya tiba-tiba memiliki gagasan ini setelah membaca buku yang review-nya pernah saya tulis di tulisan sebelumnya. Buku ini karya Joe Vitale yang berjudul Zero Limit. Joe Vitale menerbitkannya bersama seorang lagi yang menjadi sumber inspirasi dirinya dalam menulis buku ini, yakni Ihaleakala Hew Len, Ph.D.

Setelah membaca buku ini, semua gagasan dari buku-buku pengembangan diri dan self-help yang selama ini saya baca dan pelajari seolah menjadi tidak ada artinya. Yeah, cukup ekstrim memang. Well, at least, saya kemudian berpikir bahwa gagasan di buku Zero Limit ini ternyata memberikan lensa yang sepenuhnya berbeda bagi saya tentang pengembangan diri dan tentu saja pasangan abadinya, yaitu SUKSES. Its really a good option to view things.

.

Coba simak kata-kata dari Joe Vitale berikut ini :

“Apa yang terjadi pada saya sehingga bisa menciptakan semua keberhasilan ini ?

Ya, saya mengejar impian-impian saya.

Ya, saya melakukan tindakan.

Ya, saya tekun.

Tidakkah orang lain melakukan hal-hal yang sama tapi belum mencapai keberhasilan ?

Apa yang membuatnya berbeda ?” (p. xv)

.

.

Apakah ada juga yang berpikiran sama seperti Joe ? Saya salah satunya. Semakin saya membaca buku ini, saya semakin memahami faktor apa yang membuatnya berbeda ini. Joe menyebutnya sebagai faktor “Perencanaan Illahi”, yang senantiasa tercurah kepada setiap individu, namun individu itu sendiri yang menghalangi inspirasi perencanaan Illahi ini dengan apa yang biasa kita sebut dengan EGO. Ego yang menganggap bahwa diri kita lebih tau tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai sukses dan keberhasilan. Nah, menarik ? Di buku Zero Limit ini alih-alih “ego”, Joe dan Hew Len akan banyak menggunakan istilah “kenangan”. Kenangan yang kita miliki-lah yang konon menghalangi inspirasi dari Tuhan yang sebetulnya tercurah setiap saat kepada kita manusia. Lebih hebat lagi, ketika seseorang bertindak berdasarkan Inspirasi dari Tuhan, bukan bertindak berdasarkan kenangannya, maka yang disebut dengan sukses, kekayaan, kesehatan, kedamaian, dan kebahagiaan itu adalah sesuatu yang TERJADI BEGITU SAJA, mengalir, dan—siap-siap saya sangat suka ini—EFFORTLESS. Biar saya luruskan di sini, “terjadi begitu saja, mengalir, dan effortless” SAMA SEKALI BUKAN BERARTI bahwa kita diam dan semua hal-hal baik tadilah yang mendatangi kita. Menurut Hew Len, ketika kita bertindak berdasarkan inspirasi Tuhan, kita akan didorong untuk OTOMATIS BERTINDAK mengikuti inspirasi tersebut dan memperoleh semua yang baik bagi kita (kekayaan, kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, etc). Poinnya adalah, kita tetap bertindak dan melakukan sesuatu, namun dalam perjalanannya, semua akan terjadi dengan mengalir, kita bertindak dan berjalan dengan keselarasan yang tinggi bersama dunia dan alam semesta hingga akhirnya kita memperoleh semua itu.. EFFORTLESSLY. Poinnya adalah, bertindak berdasarkan inspirasi Illahi atau Tuhan, akan menceburkan diri kita ke dalam aliran alam semesta dan dunia dengan tingkat harmonisasi  yang menakjubkan, dalam arti, seperti sungai yang akhirnya akan mencapai lautan, begitu juga dengan perjalanan kita yang didasarkan pada inspirasi Tuhan yang pada akhirnya akan mencapai semua kebaikan-kebaikan tadi. Kita memperolehnya—sekali lagi—seperti tanpa upaya sema sekali, dan semua kesulitan dan hambatan seperti tidak ada artinya. Berita baiknya, Joe dan Hew Len berkata bahwa dengan bertindak berdasarkan inspirasi Tuhan pencapaian yang akan kita alami akan jauh lebih cepat ketimbang kita bertindak berdasarkan ego atau kenangan kita.

.

Nah sekarang bagaimana dengan pernyataan : “No pain no gain !” atau “Justru khan penderitaan dan kesusahaannya itu yang membuat kesuksesan itu akan terasa lebih berharga !” Betul. Jika memang itu yang diyakininya, maka setiap kesuksesan akan terasa lebih berharga jika dirinya merasakan penderitaan dan kesulitan terlebih dahulu, jika tidak, maka kesuksesan itu tidak akan ada harganya. Well, sah sah saja khan jika demikian ? The truth is what you believe as it is. Buku ini menawarkan paradigma baru. Menurut pandangan saya, kesulitan dan penderitaan itu tetap ada, tetapi bagi orang-orang yang bertindak sepenuhnya berdasarkan inspirasi Tuhan, kesulitan dan penderitaan ini tidak dipandangnya sebagai kesulitan dan penderitaan yang biasa orang lain kira. Orang lain yang melihat dirinya boleh saya berpendapat, “Oh dia sungguh melalui banyak kesulitan dan penderitaan dalam mencapai kesuksesan itu,” karena itulah yang TERLIHAT di mata orang-orang lain ini. Tetapi bagaimana dengan apa yang DIALAMI OLEH DIRINYA SENDIRI ? Kita semua ingat, bahwa apa yang dilihat dan dinyatakan oleh seseorang merupakan hasil kreasi dari pengalaman subjektifnya, yang terdiri dari kenangan, pengalaman masa lalu, genetik, pengetahuan, dan lain sebagainya yang semuanya adalah internal.

.

Bagaimana jika dirinya memandang kesulitan dan penderitaan ini sebagai sesuatu yang TIDAK menyakitkan atau menyengsarakan ? Bagaimana jika dirinya mengalami apa yang orang lain sebut dengan label “kesulitan dan penderitaan” ini sebagai sesuatu yang merupakan BAGIAN dari ALIRAN TUHAN DAN ALAM SEMESTA yang sudah semestinya ? Bagaimana jika dirinya tidak merasa kesulitan atau menderita padahal dirinya sedang mengalami hal-hal yang—kembali, menurut mata orang lain—tidak mengenakkan ? Bagaimana jika dirinya MENIKMATI dan SENANTIASA MERASA DAMAI DAN BAHAGIA selama perjalanannya mengalir bersama orkestra Tuhan dan Alam Semesta yang begitu sempurna ? Hingga akhirnya, PENGALAMAN di dalam dirinya tidak sanggup mendefinisikan “kesulitan dan penderitaan”. Hingga akhirnya, PENGALAMAN di dalam dirinya tidak mampu menyatakannya sebagai “rasa sakit”. Hingga akhirnya, PENGALAMAN di dalam dirinya hanya bisa menjelaskan kesemuanya itu dengan ungkapan : “Saya memperoleh semua ini.. Seolah tanpa upaya.. Begitu saja terjadi”. Hmm.. Menarik ya ?

.

Insight dari buku ini sangat banyak dan saya kira mampu merevolusi apa yang selama ini kita kira sebagai “jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan”. Buku ini membuat kita berpikir ulang bahwa jangan-jangan yang disebut dengan “kesukesan atau kebahagiaan” itu tidaklah serumit dan semenyakitkan seperti yang dikatakan oleh buku-buku pengambangan diri itu ? Jangan-jangan yang namanya “kesuksesan dan kebahagiaan” itu sudah tercurah setiap saat dari Tuhan sebagai salah satu bentuk nyata akan Kasih-Nya, hanya saja KITA SENDIRILAH yang membuatnya menjadi demikian kompleks, berliku-liku, dan penuh persyaratan—thanks to our Ego and our Memories ?

.

Saya akan menulis lebih dalam tentang wawasan-wawasan yang saya peroleh di buku ini pada tulisan berikutnya. Namun, sebelum itu, mari kita simak apa yang Joe tulis selanjutnya :

.

Menjelang akhir tahun 2006, saya mengajar sebuah seminar berjudul Beyond Manifestation, yang sangat dipengaruhi oleh apa yang saya pelajari setelah saya menemukan sang terpis Hawaii (Hew Len)  yang misterius beserta metodenya. Dalam acara itu, saya meminta setiap orang membuat daftar semua cara yang mereka ketahui untuk mewujudkan atau menarik sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka menyebutkan hal-hal seperti afirmasi, visualisasi, keinginan, metode kesadaran jasmani, merasakan hasil akhir, menulis, Teknik Kebebasan Emosi/Emotional Freedom Technique (EFT) atau membuka jalan, dan banyak, banyak lagi (speaking of complexity—Alfa). Setelah sebuah kelompok menginventarisasi setiap cara yang dapat mereka ajukan untuk menciptakan realitas mereka sendiri, saya bertanya kepada mereka apakah cara-cara itu senantiasa bekerja tanpa kecuali ?

Semua orang sepakat bahwa cara-cara itu tidak selalu berhasil.

“Baiklah, kenapa tidak ?” tanya saya kepada mereka

Tak seorang pun dapat mengatakannya secara pasti.

Kemudian, saya membenturkan kelompok itu dengan observasi saya :

Semua cara memiliki batasan,” saya menjelaskan. “Semua itu adalah mainan yang dimainkan oleh pikiran Anda untuk tetap membuat Anda berpikir bahwa Anda-lah yang memegang kendali. Yang benar adalah Anda tidak memegang kendali dan keajaiban nyata datang saat Anda melepaskan mainan-mainan itu serta mempercayai sebuah tempat dalam diri Anda di mana ada perbatasan nol (zero limit).” (p. xvi)

Apa yang ada di perbatasan nol atau zero limit ? Semuanya akan berhubungan dengan apa yang telah saya tulis di atas.

.

See you at the next writing in the next week, my friends. Lets keep ourselves open.

 
 

Switch to our mobile site