RSS
 

Marah

04 Jul

Pagi ini saya membaca sebuah tweet dari @pemulihanjiwa yang sangat menarik :

“Setiap kali mau marah,km mesti ingat,bahwa tujuan dari marah adalah untuk memberitahu kekecewaanmu,bukan utk menyiksa dia”

Tak ragu saya langsung masukkan tweet ini ke dalam ‘favorite’ list saya yang ke-498 (kaget, banyak juga ! :D ) dan melakukan Retweets. Lebih jauh lagi saya mulai merenungi lebih dalam makna 160 karakter barusan.

.

Untuk apa kita mengeluarkan kemarahan kita ?

.

Setelah saya merenungkannya, saya sepakat dengan tweet di atas bahwa kita mengeluarkan amarah kita untuk 2 mengungkapkan kekecewaan.. Atau menyakiti orang yang telah membuat kita marah. Now, sekarang saya sendiri belum begitu memahami bentuk kemarahan seperti apa yang memang dikeluarkan untuk menyampaikan kekecewaan, tetapi jelas saya memiliki gambaran jelas mengenai rupa kemarahan yang dilepaskan untuk menyakiti.

Sesuatu yang menyebabkan amarah merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Itu pasti. Tetapi seperti juga prinsip-prinsip universal lainnya, bahwa bukan apa yang terjadi pada kita melainkan reaksi kita atasnya adalah yang benar-benar penting. Dari reaksi, kita bisa menelaah banyak motif atau latar belakang di balik reaksi tersebut.

Saya menyadari bahwa ketika saya marah (misalnya meledak), saya melakukan lebih karena saya ingin menyakiti penyebab kemarahan saya itu. Marah yang bertujuan menyakiti saya kira lebih memainkan peranan perasaan dan sensasi-sensasi disekitar dada (yang rasanya sesak atau linu) ketimbang pemikiran rasional. Saya jadi ingat ungkapan, ‘hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin’. Barangkali ini maksudnya ya.

Sedangkan marah untuk mengungkapkan kekecewaan biasanya tidak akan berupa sebuah ledakan. Correct me if I’m wrong, tetapi marah untuk mengungkapkan kekecewaan lebih memainkan peranan rasio dan logika dengan sensasi sekitar dada yang tetap terasa namun kita tahu bahwa kita tidak lagi digerakkan oleh sensasi kimiawi tersebut. Dalam hal ini, saya berani berkata bahwa kekecewaan yang terungkap melalui kemarahan tetap dibungkus oleh suatu kasih yang sangat implisit. Bahwa marah yang terlontar ditujukkan untuk memperbaiki dan mengkoreksi si penyebab kemarahan, tidak lagi untuk menyakiti.

.

Singkatnya, kemarahan untuk memberitahu kekecewaan tidaklah didasari oleh dendam.

Kemarahan untuk menyakiti, sudah jelas didasari oleh dendam.

Yang satu untuk perbaikkan dan kemajuan. Yang satu hanya untuk memuaskan ego untuk membalas.

Karena itu, mana yang lebih sering kita lakukan ?

.

Dan saya pun kembali melakukan sebuah refleksi..

 

Leave a Reply

 

[+] kaskus emoticons nartzco
 
  1. Chia

    July 5, 2011 at 11:56 am

    Kalo marah ampe tangan gemeteran itu berarti marah yg mana ya?

     
    • Alfa Haga

      July 5, 2011 at 12:00 pm

      In my opinion, yang kedua. Sampe gemeteran itu menandakan kamu sedemikian tersakitinya dan ingin membalas menyakiti, tetapi kamu simply ngga bisa karena berbagai hal. Gemetar yang dialami bisa jadi merupakan ekses dari dicegahnya ego reaksi reaktif sesaat oleh super-ego yang lebih memahami situasi kala itu. Super-ego ini bisa jadi merupakan sum dari nilai-nilai dan budaya pemikiran satu individu yang menjadi panduan bagi seseorang untuk berperilaku. Well, its just my opinion. :)

      Thanks for commenting, dear ! :D

       
  2. adil imam m

    August 3, 2011 at 9:27 am

    kakak kelas inspirasi gw, apa kabar? :)
    gw termasuk orang yg susah mengungkapkan marah secara blak2an, gw lebih banyak diam dan berfikir, sedikit berkata mengenai penjelasan (bukan pembelaan) kemudian ngaleos (pergi). tapi kok gw merasa jadinya ditujukkan utk memperbaiki n mengkoreksi pnyebab kemarahan. marah apa itu ya? n apa kebiasaan gw ada yg salah? :)

     
    • adil imam m

      August 3, 2011 at 9:33 am

      *koreksi
      tapi kok gw merasa jadinya tidak ditujukkan utk memperbaiki n mengkoreksi si pnyebab kemarahan.

       
    • Alfa Haga

      August 22, 2011 at 6:16 am

      Yo, brother. Thanks for stopping by. Gua bukan ahli soal ginian. Tapi in my opinion, good kalo ente ga meledak-ledak, tetapi apabila harus ada yang dikoreksi tetapi ente memilih diam, mungkin lebih baik apabila next time untuk diungkapkan saja. Of course dengan cara yang kalem dan santai, tetapi jujur dan apa adanya. All the best bro :)

       
 

Switch to our mobile site