Its been a long time, since last time I wrote this blog again. Memang yang namanya disiplin itu selalu menantang. Hehehe.
Well, apapun itu, here I go again writing something I believe sudah diniatkan sejak bulan puasa lalu, cuma somehow baru ditulisnya sekarang ini.
.
Saya masih ingat di bulan puasa tahun ini, kantor tempat saya bekerja di bulan puasa senanatias mengadakan Kultum (Kuliah Tujuh Menit) paska shalat Dzuhur berjamaah dan sebelum masuk kembali bekerja di pukul 13.00 WIB. Yang spesial bagi saya waktu itu adalah ketika Direktur Keuangan kantor saya kebagian giliran menyampaikan kultum. Tidak seperti cara kebanyakan orang ketika menyampaikan kultum, beliau membawa beberapa lembar berisi puisi dan meminta beberapa sukarelawan untuk membacakannya di depan jamaah kultum. Saya diminta menjadi yang pertama membacakan salah satu puisi yang beliau bawa.
Apa yang saya baca pada saat itu, rupanya terus membekas di hati saya hingga sekarang. Berikut adalah puisi yang dimaksud :
.
Renungan Indah
by WS Rendra
.
Seringkali aku berkatan,
Ketika semua orang memuji milik-ku
.
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah “TITIPAN”.
.
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
.
Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya :
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan padaku ?
.
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan atas milik-Nya itu ?
.
Apakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
.
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
.
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, ingin lebih banyak popularitas
Kuotolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika.
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan seharusnyalah nikmat dunia kerap menghampiriku.
.
.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai dengan keinginanku.
.
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanya untuk beribadah
.
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja..
(selesai)
.
Konon, ini adalah puisi terakhir WS Rendra yang ditulisnya di ranjang Rumah Sakit.






thealterego
December 6, 2011 at 12:57 pm
Nice One..
Mengapa dititipkan padaku?
Karena kita dirasa pantas mendapat titipan tersebut…
lantas, saat tiitipan tersebut diambil dari kita.. bisa jadi itu suatu teguran yang somehow blessing in disguise.. point is pada saat titipan tersebut diambil.. kita juga dinilai mampu melewati kesedihan, rasa sakit dan juga mengambil hikmah dari semua itu =)
zkheey
December 28, 2011 at 7:41 am
Hai fafa…it’s osky brow…berbicara soal titipan emang susah kalo kita menganggap apa yang kita punya itu titipan. Maunya semua jadi milik kita termasuk apapun yang menempel di tubuh kita.
Mungkin disinilah pentingnya keikhlasan. Ikhlas dalam menghadapai ujian apapun. Senang, susah, suka, duka, tertawa, marah, dll. Disinilah ketajkwaan kita nantinya dinilai.
Justvie
February 28, 2012 at 4:00 pm
Deg !! Very like this part. . memotivasi utk lbh bnyk brsyukur atas apapun yg trjadi n atas yg qta dpatkan, bigthanks sharenya
,
Alfa Haga
November 22, 2012 at 11:15 am
Thank you

Semoga bermanfaat